Lari pagi itu menyenangkan. Apalagi menikmati solo jogging di trek yang tak biasa. Atas saran seseorang, saya menghabiskan pagi tadi di jalan antara Jembatan Lamnyong dan Jembatang Krueng Cut, Banda Aceh.
Sekitar jam tujuh pagi, saya lari sendirian di jalan pinggir bantaran sungai yang memisahkan Kota Banda Aceh dengan Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam itu. Matahari mulai menyinar di timur. Saya lari di atas jalur yang diapit cemara dan padang rumput pendek yang kering menguning.
Burung-burung bertengger di dahan tandus. Kebanyakan saya lihat bondol haji terbang di antara rawa-rawa di kanan saya, di sisi sungai. Bangau putih terbang di langit, pergi entah ke mana. Pun di atas pepohonan cemara, di bawah langit biru, sekelompok swallow (burung layang-layang) melakukan manuver. Sering pula dilintasi burung pingai.
Saya berhenti menikmati kicauan burung ketika matahari mulai meninggi di atas Kopelma Darussalam, melengkapi lanskap pagi, dengan Gunung Seulawah Agam di sisi selatan. Saya duduk bersama banyak putri. Putri Malu, tepatnya.
Tanaman bernama latin Mimosa pudica itu tampak menghibur. Daun-daunnya masih muda dan bunga berwarna merah jambu, membuat saya lupa akan duri pada sekujur batangnya. Deru kendaraan dari dua jembatan dan Simpang Mesra tak lagi terdengar, karena saya larut dengan Si Putri Malu.
Pagi tadi, di samping berolahraga, saya juga mengetes Android baru, LG D802 G2, yang saya peroleh dari mengikuti Travel Writing Competition 2014. Saya memotret, merekam video, kemudian mengeditnya hingga menghasilkan klip sederhana di atas, Si Putri Malu.[]
Writer: Makmur Dimila
Berjalanlah… dan ceritakan pengalamanmu 🙂
(Lihat juga foto-foto hasil rekaman LG D802 G2 saya berikut, tanpa editan kecuali watermark dan croping).