Ke Lhok Ketapang? Simak Pengalaman Kami

Saya sempat memotret semut raksasa dengan D100 Taufik saat singgah dalam perjalanan ke Lhok Keutapang.
FOTO : Makmur Dimila
PERJALANAN ke Lhok Keutapang perlu persiapan matang, karena harus setot rauh dan ek gle, alias trekking dan hiking. Kami memasukkan benda-benda seperti periuk, panci, telur, mi instan, susu, kacang ijo, dan tenda dalam list kebutuhan saat briefing sehari sebelum berangkat. Tak lupa, gunting dan pisau, yang lupa kami bawa ketika berkemah di Pantai Lange tahun lalu.
Saya tidur cepat pada malam Sabtu karena sadar tak pernah olahraga belakangan, kecuali naik tangga berkali-kali di rumah panggung tempat saya tinggal. Persiapan ini tak sia-sia. Saya tak selelah Boy, Sayed, Munawar, Arol, saat pendakian yang dipimpin Rahmat Taufik. 

1. Siap-siap. 2. Baru sejenak sudah capek. 3. View kota Banda Aceh dari Pos Pertama. 4. Jeda di Pos Pertama.
FOTO : Makmur Dimila

Berangkat jam 5 sore dari sebuah desa di Ujong Pancu, Peukan Bada, Aceh Besar, tiba di tujuan jam delapan malam, lewat beberapa menit. Sebelum memulai pendakian, Taufik selaku team leader, gelar briefing. Mengingatkan kami agar tak sombong selama perjalanan. Ditutup dengan doa masing-masing.
Setelah itu, semangat menikmati keindahan anugerah Tuhan mendorong perjalanan kami. Menyusuri jalur setapak, membelah semak-semak. Perlahan memanjati bahu gunung, mengusung rindu pada Si Cantik Rupa.
Ada dua model istirahat dalam perjalanan kami. Piyoh trep dan piyoh siat; jeda lama dan jeda sebentar; long pause dan little pause. 😀 Nah, sesudah beberapa kali jeda sejenak di tepi trek, kami piyoh trep di Pos Pertama, yaitu di sebuah jambo (saung) pada satu kebun tak berpagar. Dari jambo ini, kami bisa mencuri pandang, menatap kota Banda Aceh yang padat.
Hampir saja, rehat kami mencapai setengah jam jika perjalanan ke Lhok Keutapang tak segera diteruskan. Beragam pepohonan mengapit jalan, begitupun pohon-pohon yang digunakan Tarzan untuk transportasi udaranya, banyak kami jumpai.

Sinar sunset melalui celah pepohonan saat trekking ke Lhok Keutapang. Saya motret pakai D100, efek shake.
FOTO : Makmur Dimila

Sinar matahari memberi kabar lewat celah-celah ranting, bahwa malam akan segera datang. Kami mesti bergegas langkah agar bisa salat magrib di Pos Kedua.
Pos Kedua berada setelah melewati spot ketinggian gunung yang kami daki. Di sini, ada kolam kecil yang menampung air dari aliran air jatuh. Airnya bisa digunakan untuk mandi, ambil wudu, maupun untuk dimasak. Tentu, ada kehidupan di dalamnya, sarangnya aneuk abiek (berudu). Tapi airnya tetap bening dan aman bagi siapa saja.

1. Taufik rehat di atas pohon Tarzan 😀 2, Arol tak sadar diri. 3. Hek that di puncak gunung. 4. Sayed basuh muka di Pos 2.
FOTO : Makmur Dimila

Sebuah famplet berisi ajakan menjaga lingkungan ditempel pada sebatang pohon, searah dengan pandangan saya ketika salat magrib di sini.
Kami mendaki hampir dua jam. Bahu terasa pegal pada tahap ini. Dan keringat membasahi tubuh, seperti diguyur hujan. Taufik, sebelum meninggalkan Pos Kedua, mengingatkan kami agar lebih peka pada kondisi alam sewaktu trekking dalam kegelapan. Tak perlu takut. Jalannya berantai, tak jauh-jauh antara satu orang dengan lainnya. Jangan segan-segan untuk minta istirahat.
Suara binatang hutan bersahut-sahutan, saat kami akan membelah malam. Taufik memimpin dengan senter, saya dengan senter korek api di urutan ketiga, dan Sayed yang mulai fit, mendapat tugas sebagai sweeper. Ia menyisir rute dari belakang dengan memakai lampu kepala (head lamp) di jidat. Tak sampai satu jam, “kita sudah sampai,” ujar Taufik, ucapan yang juga keluar saat tiba di Lange.

Padang ilalang melerai kami dari kepungan belantara. Ujung-ujung rumput besar itu terasa menggores bahu atau lengan jika gegabah melangkah. Debur ombak mengucapkan selamat datang.

Menentukan tempat berkemah juga tugas penting. Kami ingin kemping di lokasi yang berdekatan dengan spot mancing. Ya, karena ingin fishing ketika malam mulai larut.
Sehabis menyibak ilalang, kami belok kiri. Menyusuri pantai, mungkin sekitar 200 meter. Bulan sabit di kanan kami menggantung di langit, menguning, di antara sinar gemintang. Kami pasang tenda dekat gua kecil, gua yang terbentuk dari batu karang.
Sebagian bikin tenda, sisanya mencari kayu bakar. Terakhir, menanak nasi, goreng telur, rebus mi, setelah dua tugas itu selesai. Dan kami dinner, sayangnya, ketika bulan nan cantik melengkung, hilang dari atas garis horizon Samudera Hindia.

Foto malam dari ipadmini, dengan bantuan senter. Lumayan. 😀
FOTO : Makmur Dimila

Kami memancing dari atas batu karang besar yang menyembul di pantai. Persis di depan area kami berkemah. Menggunakan kail sederhana, dengan umpan yang sederhana, yaitu tubuhnya umang-umang, sejenis siput yang berkeliaran di pantai Lhok Keutapang.
Kami hancurkan cangkang umang-umang, kami ambil bagian tubuhnya saja; anggaplah ini bagian dari siklus rantai makanan. Ya, kemudian ikan-ikan karang melahap badan umang-umang di mata kail kami, lalu kami bakar ikan itu untuk disantap. Jelas, bagian dari rantai makanan makhluk hidup.
Namun, saya dan Taufik tidak tidur malam itu. Usai mancing jam 4, kami membersihkan enam ikan dengan susah payah, dengan pisau buah, sial sekali tak ada yang bawa pisau dapur. Betapa sulitnya membuang sisik, hingga Taufik keluar ide, mengupas sisik ikan dengan pecahan karang. Selesai satu jam. Mantap! Tak lama, subuh datang.
Waktu salat berlalu, kami masak air dengan panci, meletakkannya di tungku alam: tiga batu lonjong yang ditanam di tanah oleh Arol. Kami menyeduhnya saat hari mulai remang. Ditemani roti. Saya berjalan jauh ke kiri, menaiki batu-batu karang, melihat ikan-ikan kecil berwarna terang. Menyaksikan boat-boat nelayan melewati Pulau Bunta. Ketika kembali satu jam kemudian, saya menyantap bubur kacang ijo yang sudah dimasak Taufik dibantu Boy dan Munawar. Lon pajoh-pajoh manteng. Haha.

Selamat pagiii… Ups! 😀
FOTO : Rahmat Taufik

Jam 8 pagi, sinar matahari mulai menyirami bebukitan dekat padang ilalang. Kami lari, memotret di sana lebih asik, lebih romantik. Puas motret, kembali ke tenda, tidur. Dan kami pulang usai makan siang dan salat, jam 3.
Nah, giliran saya yang ngos-ngosan meskipun pejalanan pulang lebih pendek dan ringan. Saya kira takkan sampai lagi, tapi alhamdulillah, jam 5 sore, kami tiba di musala yang tak dipakai lagi, tempat kami memulai perjalanan kemarin. Sudah packing? Ayo bersafari ke Aceh. 🙂 []

Writer : Makmur Dimila

2 thoughts on “Ke Lhok Ketapang? Simak Pengalaman Kami

    1. Tidak sama. Kalo ke Lhok Mata Ie kan masuknya lewat samping kadang ayam besar itu.
      Kalo ke Lhok Keutapang sebelumnya. Tepatnya, di kiri jalan menuju Ujong Pancu, ada sebuah lorong dusun. Kalau kita masuk akan nampak musala (meunasah) dan beberapa rumah di belakangnya. Nah, jalur ke Lhok Keutapang itu ada di belakang meunasah. Dari meunasah, jalan kaki melintasi gorong2 (got) dan masuklah kebun. Di kebun itu, ada jalur setapak yang biasa dilalui pendaki atau pekebun. Ikuti saja jalur itu. Tapi sebaiknya pake guide agar tak tersesat di hutan. Hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *