![]() |
Jamuan Pedalaman Mane. |
DURIAN, manggis, langsat, delima, kopi robusta, semua itu kami nikmati gratis di Geumpang, kecamatan terakhir di Pidie yang berbatasan dengan Aceh Barat. Di rumah famili seorang pendatang kampung kami, buah-buah itu memenuhi heut (hasrat) kami para muda sebelum berpisah mengakhiri lebaran.
Sabtu itu terasa bagai dua hari menjelang Idul Fitri tahun ini berakhir. Di Lutueng, satu gampong (desa) di pedalaman Mane, kami semacam menikmati kenduri durian di rumah sanak saudara Bang Hasan.
![]() |
Dari kiri: Gun. Wan. Jai. San. Pak Dok. Teungku Fadil, Kamil, Teungku Nu. |
Leumang, penganan khas Aceh terbuat dari ketan, telah disiapkan saudaranya. Leumang dikeluarkan dari batang bambu, dilucuti daun pisang yang membalutnya, lalu dipotong kecil-kecil. Setiap tangan kami mencomot potongan leumang dan menjadikan daging durian layaknya sambal.
![]() |
“Seunang that katroe”. 😀 |
![]() |
“Na hawa?” 😀 |
Maka lihatlah ketika penganan khas Aceh ini masuk ke mulut kami, amboi, kamu pasti hawa kan? Ngiler, kan? Hm, makanya, sering-sering pulang kampung saat lebaran. Kebersamaan pemuda seperti ini tidak pernah ada di perantauan.
Para muda di kampung pun hanya kerap bersama saat hari raya. Setelah itu kembali ke habitatnya masing-masing. Merantau. Nyantri. Kuliah. Kerja. Dan lainnya. Sebagian saja menetap sebab rejekinya di di kampung halaman.
Perjalanan ke Geumpang pun kami capai hampir dua jam dari Jabal Ghafur. Pesona Takengon kami rasakan di Tangse. Jika kamu pernah ke Gayo Lues, mungkin daerah itulah yang tepat dimajaskan kepada panorama pedalaman Geumpang.
Trek ke dataran tinggi Pidie ini selalu disambut gemericik air sungai di jurang dan desir angin dari pegunungan. Kenikmatan lain yang memanjakan pelintas jalan adalah udara dingin. Sapuan angin hutan asri memulihkan tubuh dari kebiasaan disengat matahari di kampung sendiri.
Pada dataran agak rendah, jembatan gantung terbuat dengan kerangka tali juga sering terlihat, menghubungkan satu desa dengan desa lain yang dibelah sungai. Adakalanya ia menjembatani desa dengan lahan pertanian yang dipisah aliran sungai.
![]() |
Titi gantung khas Tangse. “Cape nunggu ga ada orang lewat, huhu.” |
Kami lebih dulu makan durian bersama di Gampong Lutueng, Kecamatan Mane, sebelum menyantap sehidang buah segar di Gampong Bangkeh, Kecamatan Geumpang. Dua-duanya di rumah famili Bang Hasan, sang pendatang. Dialah yang ajak kami ke sana.
![]() |
Gini ni cara nunggu duren jatuh. 😀 |
Tangse belum musim durian. Tapi Kecamatan Mane dan Geumpang sedang panen. Sebelum kembali ke tanah kelahiran, kami masing-masing membeli durian yang dijajakan di kedai-kedai kecil di pinggir jalan nasional Meulaboh – Beureunuen.
Durian ditumpuk di meja-meja kayu. Di depan pagar yang melindungi halaman rumah si pemilik. Durian-durian itu baru saja jatuh dari pohon di halaman rumah. Ada juga yang dibawa turun dari kebun di gunung. Pokoknya, masih fresh deh. Buah berduri itu diikat di pijakan motor, hanya Ihsan yang membawa layaknya muge (penggalas). Baca juga sambungannya, Air Terjun Tangse
Writer: Makmur Dimila
Mantaaaaap 😀 :y
Main2lah ke dataran tingginya Pidie. Hehe
Omaaak…seru liiii…. Dulu waktu aku masih tinggal di Lhokseumawe, aku sering pulang ke Meulaboh melewati pinggir sungai yang di foto itu. Sangat memorable. 😀
Oo,, rute favoritmu rupanya. Jalan Tangse – Meulaboh memang adem gitu dan banyak spot2 fotogenik. 🙂
Aaaa, suka sama durian 😀 buah paling enak yang pernah dimakan tuh XD
Haha, ayo dong ke Aceh, duren kami enak2 lho. 😀